Hampir semua lagu yang pernah dibuat manusia sudah hilang. Sepanjang sebagian besar sejarah musik, lagu tersimpan di tangan dan ingatan orang yang memainkannya. Lagu itu diteruskan kepada siapa pun yang duduk cukup dekat untuk mempelajarinya, lalu lenyap satu atau dua generasi kemudian ketika orang terakhir yang mengenalnya meninggal. Saat membayangkan sejarah musik, kita biasanya memikirkan karya yang masih ada. Padahal, jauh lebih banyak lagu yang sudah tidak bisa kita dengar lagi.
Dengan notasi, sebuah lagu punya peluang lebih besar untuk bertahan. Lagu yang ditulis bisa tetap ada setelah semua orang yang pernah mendengarnya meninggal. Karena itulah kita masih bisa memainkan musik dari berabad-abad lalu. Lagu yang kita sayangi pun tidak harus hilang bersama orang yang menyimpannya dalam ingatan.
Apa yang hilang saat lagu hanya tersimpan dalam ingatan
Musik yang diwariskan lewat pendengaran terus berubah saat dimainkan, dengan cara yang tidak bisa ditangkap notasi. Di situ ada kekuatan sekaligus kelemahannya. Setiap pemain mengubahnya sedikit. Lama-kelamaan, melodinya bergeser, menjadi lebih sederhana, atau berkembang menjadi beberapa versi. Sebagian perubahan itu memang indah dalam tradisi yang terus hidup. Tapi kalau sebuah melodi hanya pernah ada di tangan satu orang, tidak ada satu versi pun yang tersisa saat orang itu berhenti memainkannya. Tidak ada salinannya.
Lagu andalan kakek atau nenek di pesta keluarga, aransemen pemimpin pujian yang dikenal jemaat selama 30 tahun, lagu biola tradisional yang bisa dimainkan seluruh penduduk suatu lembah, atau riff yang dimainkan teman sambil iseng dan terus terngiang di kepala kita, semuanya bisa saja tidak tercatat di mana pun. Satu serangan jantung, kepindahan, atau tahun yang berat bisa membuatnya hilang untuk selamanya.
Rekaman dan catatan lagu menyimpan hal yang berbeda
Kita mungkin mengira rekaman sudah menyelesaikan masalah ini. Sebagian memang terselesaikan. Rekaman berharga dan setiap rekaman yang bisa disimpan sebaiknya tetap kita simpan. Tapi yang direkam adalah satu penampilan, bukan lagunya sendiri. Dari file audio, kita cuma bisa mendengarkan. Progresi akornya tidak terlihat. Partitur suara tengahnya tidak bisa dibagikan kepada pemain lain. Kita tidak bisa mengubahnya ke nada dasar yang sesuai dengan jangkauan suara kita, memperlambat bagian yang sulit untuk dipelajari, atau mencetaknya untuk paduan suara. Musiknya masih tersimpan di dalam bunyi.
Setelah ditulis dalam notasi, lagu bisa dibaca dan dimainkan dengan benar oleh orang yang menemukannya 50 tahun kemudian, meski belum pernah mendengar versi aslinya. Lagu bisa berpindah dari satu orang ke orang lain dan bertahan dari generasi ke generasi karena ada catatan yang bisa dibaca. Arsip yang ideal menyimpan keduanya: rekaman untuk mendengar bagaimana lagu itu dimainkan dan notasi untuk membaca lagunya.
Dulu menuliskan musik menuntut banyak waktu dan keterampilan
Sepanjang sebagian besar sejarah musik, orang yang menuliskan musik harus punya keterampilan khusus dan meluangkan banyak waktu. Kita harus bisa mengenali akor dari bunyinya, mencari ritmenya, lalu menulisnya dengan jelas pada paranada. Keterampilan itu berharga. Dengan belajar membuat transkripsi dengan mendengarkan, kita masih bisa memahami lebih banyak hal tentang musik daripada lewat hampir semua cara lain. Tapi menyimpan satu lagu bisa menjadi pekerjaan panjang. Akibatnya, tidak ada yang meluangkan cukup waktu dan perhatian untuk menuliskan sebagian besar lagu.
Sekarang pekerjaan itu jauh lebih ringan. Rekaman, termasuk yang lama atau kurang bersih, bisa diubah menjadi partitur yang bisa dibaca dalam hitungan menit. Transkripsi AI membuat draf awal notasi dari audio, lalu kita mendengarkan kembali untuk memperbaiki bagian yang keliru. Dulu, kita perlu mendengarkan satu karya dengan teliti sepanjang sore untuk menuliskannya. Kini, karya itu bisa tercatat di atas kertas, lengkap dengan akor dan piano roll yang bisa dibaca, sebelum air di ketel mendidih. Sebagian besar musik hilang karena sulit ditulis. Sekarang, mencatatnya tidak lagi menuntut usaha sebesar dulu.
Musik yang bisa kita simpan mulai sekarang
Coba ingat musik di sekitar kita yang hanya ada di tangan seseorang. Ada kerabat yang bermain dengan mengandalkan pendengaran dan belum pernah belajar membaca not. Lagu ciptaan teman direkam di ponsel lalu terlupakan. Aransemen yang dibuat bersama saat latihan band hanya diingat oleh kita berempat. Improvisasi sendiri di tengah malam pun akhirnya kita lupakan, meski waktu itu kita yakin akan terus mengingatnya.
Semua itu bisa dicatat. Rekam sebersih mungkin. Hasilnya paling baik kalau kita merekam satu instrumen yang dimainkan sendiri di ruangan tenang. Setelah itu, gunakan Songscription untuk mengubah rekaman menjadi partitur, lalu rapikan drafnya. Rekaman dari kaset lama atau rekaman yang suaranya kurang bersih pun bisa dipakai. Kami sudah menulis panduan singkat tentang merekam ide musik sebelum terlupa untuk membantu membangun kebiasaan itu. Ada juga artikel pendamping tentang peran yang masih dijalankan musisi saat memakai AI.
Tetap ada yang tidak tertangkap. Partitur tidak bisa menggambarkan dengan tepat sentuhan seorang pemain, rasa swing pada suatu frasa, atau nada yang sedikit meleset tapi justru menjadi ciri permainannya. Notasi seperti peta: ada petunjuknya, tapi tidak memuat seluruh pengalaman berada di tempat itu. Transkripsi rekaman lama pun masih perlu diselesaikan dengan mendengarkan secara teliti. Dengan peta, kita masih bisa menemukan jalan kembali. Tanpanya, tempat itu bisa hilang sama sekali. Lagu yang hidup di tangan seseorang tidak harus hilang saat orang itu meninggal. Untuk pertama kalinya, hampir siapa pun bisa menuliskannya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Mengapa musik perlu ditulis kalau sudah ada rekamannya?
Rekaman menyimpan satu penampilan; notasi menyimpan lagunya sendiri. Kita bisa mendengarkan rekaman, tapi kalau hanya punya rekaman, kita akan kesulitan melihat akor, membagikan partitur tiap instrumen ke pemain lain, mengubah nada dasar, atau mempelajari lagu frasa demi frasa. Setelah ditulis dalam notasi, lagu bisa dibaca dan dimainkan orang lain. Dengan begitu, lagu tetap ada setelah satu-satunya orang yang mengenalnya meninggal. Arsip yang paling lengkap menyimpan keduanya: rekamannya tetap disimpan, lalu notasinya dibuat dari rekaman itu.
Bagaimana cara menuliskan lagu yang belum pernah dibuat notasinya?
Rekam sebersih mungkin, lalu transkripsikan rekaman itu ke dalam notasi. Kita bisa mengerjakannya dengan mendengarkan dan mencari notnya satu frasa demi satu frasa, atau memakai alat transkripsi AI untuk membuat draf awal dari audio, lalu memperbaikinya. Rekaman satu instrumen yang dimainkan sendiri di ruangan tenang memberi hasil terbaik. Hasil yang dituju adalah partitur atau lead sheet yang bisa dibaca, dengan melodi, akor, dan bentuk lagunya.
Bisakah cara ini dipakai untuk menyimpan permainan kerabat atau lagu keluarga?
Bisa. Menjaga lagu keluarga adalah salah satu alasan yang kuat untuk membuat transkripsi. Rekaman kakek atau nenek bermain piano, atau lagu ciptaan anggota keluarga, bisa diubah menjadi notasi. Lagunya pun ada di atas kertas dan bisa dimainkan siapa saja yang membacanya. Rekaman lama atau yang kurang bersih pun bisa menghasilkan draf yang bisa dipakai. Dengarkan kembali untuk memperbaikinya, supaya lagu yang semula bergantung pada ingatan punya catatan yang bisa disimpan.
Kalau ada karya yang sudah lama ingin kita simpan, kita bisa mulai mengerjakannya minggu ini dengan memilih rekaman paling bersih yang kita punya dan mengubahnya menjadi partitur selagi masih ada kesempatan.
