ReferensiTranskripsi musikAndrew Carlins•Waktu baca: 10 menit

Menggunakan Suno dan Songscription di kelas musik: panduan untuk guru

Siswa sudah memakai generator lagu AI. Kita perlu menentukan cara menggunakannya dalam pelajaran tanpa melewatkan proses belajar. Beberapa kegiatan berhasil di kelas, tapi ada masalah yang perlu diperhatikan. Kita bisa memakai transkripsi Songscription agar siswa tetap melatih keterampilan musiknya.

Menggunakan Suno dan Songscription di kelas musik, dengan contoh kegiatan, kekhawatiran yang perlu diperhatikan, dan latihan teori musik

Artikel ini bagian dari panduan lengkap Suno untuk musisi.

Siswa kita sudah mengenal Suno. Sebagian bahkan sudah membuat selusin lagu dengannya. Generator lagu AI sudah masuk dalam percakapan mereka. Sebagai guru musik, kita perlu menentukan cara memakainya agar membantu siswa belajar tanpa diam-diam menggantikan proses belajar. Kini ada panduan dan pengalaman dari kelas yang bisa dijadikan acuan.

Memahami arahan lembaga penyusun standar

Pada Juli 2025, National Association for Music Education menerbitkan kerangka penggunaan AI dalam pendidikan musik. Kerangka ini mengacu pada kegiatan dalam National Music Standards: mencipta, membawakan, menanggapi, dan menilai. AI sebaiknya mendukung kreativitas, pengajaran, dan hubungan antarmanusia, tanpa menggantikannya. Guru juga diminta terus memperhatikan privasi, bias, dan kekayaan intelektual. Dokumen ini memang disusun untuk terus diperbarui, sesuai dengan perubahan cepat di bidang AI.

Penelitian yang sudah melalui telaah sejawat juga mengarah ke sana. Sebuah analisis tahun 2025 dalam jurnal kebijakan pendidikan seni memandang AI generatif sebagai peluang, dengan syarat sekolah membangun literasi AI, menyesuaikan penilaian untuk karya yang dibantu AI, dan menyediakan pelatihan bagi guru.

Memilih kegiatan yang berhasil di kelas

Sebuah studi tentang guru sekolah menengah yang memakai Suno memberi gambaran konkret tentang penggunaannya di kelas. Guru membimbing kelompok kecil untuk membuat lagu kelulusan. Siswa menulis lirik terlebih dahulu, lalu memakai Suno untuk mendengar lirik itu dinyanyikan. Menurut guru, mendengar AI menyanyikan lirik karya siswa menjadi pengalaman baru yang menarik perhatian siswa yang biasanya kurang terlibat dalam pelajaran. Ide yang baru ditulis bisa segera didengar sebagai lagu, jadi kegiatan terus berjalan.

Guru yang mendapat manfaat paling besar memakai Suno untuk mencari ide dan menyeleksi hasil. Siswa diminta membuat beberapa versi, lalu memilih, mengkritik, dan merevisinya. Mereka tidak langsung menerima hasil pertama.

Kegiatan lain juga cukup berhasil. Contoh genre atau bentuk lagu yang dibuat saat dibutuhkan membantu siswa memahami konsep yang sedang dibahas lewat musik yang mereka dengar. Menulis lirik dengan pola bait dan chorus, lalu menjadikannya lagu, mendorong siswa memperhatikan bentuk lagu. Lagu pengingat juga membantu pelajaran di luar musik.

Suno sendiri bisa menjadi bahan pembahasan: mengapa musiknya terdengar seperti itu, data apa yang dipakai untuk melatih AI, dan apa perbedaan antara cara manusia dan mesin mencipta musik. Pembahasan ini melatih siswa mendengarkan secara kritis sekaligus memahami teknologi digital. Dengan penggunaan seperti ini, siswa yang belum membaca notasi atau memainkan alat musik pun bisa mulai terlibat.

Memahami kekhawatiran yang muncul

Guru yang memakai Suno di kelas juga menyebutkan masalahnya. Yang paling menonjol adalah siapa yang membuat karya dan bagaimana menilainya. Saat sebuah lagu terdengar bagus, sulit menentukan seberapa banyak yang dibuat siswa. Seorang guru dalam studi itu menyampaikan kesulitan yang sama: kita sulit mengetahui seberapa besar bagian yang benar-benar dibuat sendiri oleh siswa. Karena itu, siswa perlu mencatat bagian yang dibuat AI serta bagian yang mereka tulis atau ubah sendiri. Kekhawatiran ini tidak harus berujung pada larangan memakai alatnya.

Kekhawatiran kedua adalah melemahnya keterampilan. Kalau AI yang membuat komposisi, siswa mungkin berhenti berlatih membuat melodi dan harmoni serta melatih pendengaran, padahal keterampilan itulah yang seharusnya tumbuh saat mereka mencipta. Ethan Hein, kritikus yang mengajar teknologi musik, menegaskan bahwa menghasilkan lagu jadi tidak sama dengan menjalani latihan dan mengambil keputusan saat berkarya. Ia tetap mendukung penggunaan AI yang lebih terbatas, misalnya membuat trek pengiring untuk latihan ritme. Pandangannya layak dibaca karena ia membedakan penggunaan yang membantu latihan dengan penggunaan yang menggantikan prosesnya.

Hak cipta dan etika juga menjadi persoalan. Hasil dari paket gratis hanya untuk penggunaan nonkomersial. Karya yang sepenuhnya dibuat AI tidak bisa didaftarkan hak ciptanya karena tidak punya pencipta manusia. Model AI juga dilatih dengan musik yang sudah ada, melalui cara-cara yang masih dipersoalkan di pengadilan. Semua persoalan ini belum tuntas dan bisa menjadi bahan pelajaran.

Tetap melatih teori dan literasi musik

Kekhawatiran bahwa siswa melewatkan latihan keterampilan musik bisa ditangani lewat tugas yang kita berikan. Jangan berhenti pada audio yang sudah jadi. Ambil lagu buatan salah satu kelompok, lalu transkripsikan dengan Songscription. Rekaman diubah menjadi partitur langsung di browser, tanpa perlu menginstal apa pun atau menyiapkan akun siswa. Paket gratisnya mencakup cuplikan pendek. Tampilkan partitur dan piano roll agar siswa punya bahan untuk dibaca, dianalisis, dan dimainkan.

Dari hasil transkripsi di layar, siswa bisa menyebutkan akor yang dipakai model AI dan membahas mengapa akor-akor itu cocok. Minta mereka memetakan bentuk lagunya, lalu belajar memainkan melodinya dengan alat musik. Perlambat frasa yang sulit tanpa mengubah tinggi nadanya. Kita juga bisa menyederhanakan bagiannya agar bisa dimainkan pemula, atau mengolahnya menjadi aransemen untuk ansambel kecil.

File buatan AI kini menjadi bahan yang dipelajari, bukan sekadar hasil jadi yang dikagumi. Siswa memperlakukannya seperti karya musik lain yang mereka pelajari. Membaca, menganalisis, mengaransemen, dan membawakan musik adalah pekerjaan siswa sendiri. Hasil kerja itu bisa dinilai. Songscription memisahkan bunyi alat musik yang diminta, mendeteksi akor, dan mengekspor hasilnya ke PDF atau MusicXML. Dalam sekitar dua menit, partitur sudah bisa ditampilkan di kelas dan diberi catatan.

Menetapkan batasan untuk kegiatan di kelas

  • Tetapkan aturan penggunaan AI sebelum materi mulai diajarkan. Tentukan kegiatan yang boleh memakai generator, lalu minta siswa menandai bagian buatan AI dan bagian yang mereka buat sendiri.
  • Periksa ketentuan penggunaan dan batas usia. Hasil dari paket gratis hanya untuk penggunaan nonkomersial. Batas usia akun dan aturan privasi siswa berbeda-beda, jadi ikuti kebijakan otoritas pendidikan setempat dan periksa ketentuan platform sebelum membagikan hasil ke publik.
  • Nilai pekerjaan yang dilakukan siswa. Beri nilai untuk lirik, analisis, aransemen, dan penampilan yang mereka kerjakan sendiri, bukan untuk kualitas audio buatan AI.
  • Tetap gunakan alat musik di kelas. Sertakan kegiatan membaca, memainkan, atau menganalisis musik setiap kali siswa memakai generator. Alat itu perlu mendukung latihan keterampilan musik, bukan menggantikannya.

Dengan batasan itu, generator lagu AI menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan pelajaran musik: siswa mendengarkan dengan saksama, memahami bagaimana musik disusun, lalu membuat dan membawakannya sendiri. Pembahasan lebih lanjut ada dalam panduan menggunakan transkripsi AI di kelas dan mengubah lagu menjadi partitur untuk siswa.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah guru musik sebaiknya memakai Suno di kelas?

Suno bisa dipakai sebagai alat bantu, selama siswa tetap menjalani proses belajarnya. Panduan National Association for Music Education tahun 2025 menyatakan bahwa AI sebaiknya mendukung kreativitas, pengajaran, dan hubungan antarmanusia, tanpa menggantikannya. Guru juga perlu memperhatikan privasi, bias, dan kekayaan intelektual. Di kelas, Suno bisa dipakai untuk memberi contoh genre, mencari ide komposisi, atau melatih siswa mendengarkan secara kritis. Siswa perlu mengarahkan dan mengkritik hasilnya, bukan menyerahkan lagu jadi buatan AI sebagai karya sendiri.

Apa kekhawatiran utama tentang generator musik AI dalam pendidikan?

Kekhawatiran yang paling sering disebut adalah siapa yang membuat karya dan bagaimana menilainya. Pada lagu buatan AI, sulit menentukan seberapa banyak yang benar-benar dikerjakan siswa. Ada juga risiko keterampilan melemah kalau siswa berhenti berlatih membuat melodi dan harmoni serta melatih pendengaran karena AI sudah membuatkan musiknya. Hak cipta juga menjadi persoalan: hasil dari paket gratis hanya untuk penggunaan nonkomersial, dan karya yang sepenuhnya dibuat AI tidak punya pencipta manusia. Masalah lain adalah bias dalam data pelatihan dan etika meniru musisi sungguhan.

Bagaimana agar siswa tetap melatih keterampilan musik dalam pelajaran yang memakai AI?

Ubah audio buatan AI menjadi bahan yang harus dibaca dan dipahami siswa. Transkripsikan lagu Suno menjadi partitur dan piano roll, lalu minta siswa menganalisis akor, bentuk lagu, dan melodinya, atau belajar memainkan salah satu bagiannya. File yang semula hanya didengarkan sekarang menjadi bahan untuk belajar teori, melatih pendengaran, dan bermain musik. Siswa tetap melatih keterampilan yang menjadi tujuan pelajaran saat memakai AI.

Apakah lagu Suno buatan siswa boleh dipakai dalam konser sekolah atau dibagikan?

Periksa paket dan ketentuan platform terlebih dahulu. Paket gratis Suno hanya mengizinkan penggunaan pribadi dan nonkomersial, jadi izin untuk membagikan hasilnya ke publik masih perlu diperhatikan. Lagu yang sepenuhnya dibuat AI juga tidak bisa didaftarkan hak ciptanya di Amerika Serikat. Kalau lagu akan dipakai di luar kelas, perhatikan lisensi dan privasi siswa, lalu ikuti kebijakan otoritas pendidikan setempat. Utamakan karya yang memuat hasil kerja siswa sendiri, bukan hasil mentah dari generator.

Tentang penulis

Andrew Carlins

Ditulis oleh

Andrew Carlins

Salah satu pendiri dan CEO Songscription

Andrew mendirikan Songscription di Stanford bersama beberapa teman sesama musisi. Mereka sudah bosan mencari partitur lagu yang ingin dimainkan, tapi tidak kunjung menemukannya. Sejak kecil, ia bermain piano dan saksofon bariton serta tampil di teater musikal. Meski sudah bertahun-tahun tidak tampil, ia masih menganggap dirinya cukup jago. Ia menulis tentang cara membuat partitur dari rekaman lagu.

Kenali tim kami

Baca artikel lain dengan topik yang sama.